Saya belajar banget hari ini. Diantranya adalah ketika saya melihat seseorang bos membelikan makanan untuk karyawan yang ada di kantornya. Makanan beberapa porsi, dimana setiap orang katanya dikasih jatah 1 porsi. Tetapi setelah makanan datang, bosnya menggabungkan makanan-makanan itu menjadi satu wadah, kemudian bos nya ikut makan dengan karyawannya dengan mengambil makanan di satu tempat tersebut. Saya tidak tahu apakah semua menjadi sesuai dengan porsi yang dijanjikan atau tidak, tetapi saya rasa tidak semua makan sesuai porsi yang dijanjikan tersebut. Dan saya lihat ada yang sungkan ngambil lagi walaupun dia masih lapar, sementara bosnya nambah lagi.
Sebanrnya ada hal yang menurut saya jauh lebih baik, yaitu membelikan sesuai porsi cukup bagi mereka, dan memisahkan atau memesan terpisah untuk dirinya. untuk apa pesan terpisah?agar ia tau angka cukup bagi dirinya dan tidak mengambil yang mungkin bukan hak nya. Karena bisa jadi orang sungkan untuk mengambil lagi dan sebagainya. Ini bagian dari melayani karyawan. Dengan memberikan kepuasan bagi karyawan maka mereka pun akan memberikan feedback yang memuaskan juga. Dan sebagai owner hendaknya mencukupkan diri dengan apa yang ia punya atau yang sudah ia pisahkan, dan lebih baik lagi ia membagi apa yang ia punya untuk karyawan yang dilihat masih kurang. ini yang dilakukan oleh Rasulullah.
Dalam saalah satu kisah, rasulullah diundang oleh sahabatnya untuk makan gulai kambing. Sahabat ini masak hanya sedikit, tetapi rasulullah meminta sahabat ini memberitahukan kepada istrinya untuk tidak membuka panci sebelum Rasulullah datang. Kemudian Rasulullah mengundang para sahabat untuk datang juga kerumah sahabat yang memasak gulai tersebut. Sesampainya rasulullah di sana, Rasulullah membuka tutup panci itu dan melayani sendiri para sahabat beliau. Satu per satu sahabat diberikan porsinya, bahkan sampai mereka kenyang, setelah mereka kenyang baru lah Rasulullah mengambil untuk prosi beliau. Kira-kira porsi makan beliau banyak atau sedikit, ya? wallahu’alam. Tetapi saya rasa beliau tidak akan sampai kenyang, karena beliau membagi perut itu sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga lagi untuk udara. Dari sini rasanya standar kenyang Rasulullah berbeda dengan sahabat-sahabat beliau.
Seperti inilah seharusnya sikap seorang pemimpin, ia punya angka cukup untuk dirinya, sehingga ia tidak akan mengambil hak orang lain.
Memang begitulah manusia cara berfikirnya berbeda-beda, berdasarkan apa yang mereka pelajari, atau mereka dapatkan dari orang-orang yang mereka lihat. Bila kita kembalikan ke contoh terbaik yaitu Rasulullah, maka tentunya kita akan lebih adil dalam melayani karyawan kita sendiri.
Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasi sikap seperti yang saya ceritakan diatas adalah dengan mengganti rasa kepemilikan menjadi rasa menikmati. Bahwa uang yang diamanahkan kepada kita adalah hanya titipan saja bukan untuk kita miliki, dan hanya bisa kita nikmati sesuai dengan porsinya. Bila kita merasa yang kita keluarkan itu harta kita, maka tentu akan membuat kita merasa berhak untuk mengambil lebih banyak porsinya dibanding orang lain. Itu pun sebenarnya boleh saja, akan tetapi harusnya ia memisahkan antara porsi untuk dirinya dan porsi untuk orang lain.
Bila ia mencampurkan porsi dia dengan porsi lainnya atau memasukan semua kedalam satu wadah dan yang lain ambil dari situ, tentu yang lain akan sungkan dan akan merasa takut mengambil jatah orang lain yang padahal ia masih kurang. Memang adil tidak harus sama, tetapi setiap orang punya angka cukup. Penuhi saja apa yang menjadi hak mereka bila ada sisa maka berikan kepada yang lain. cukuplah porsi kita sesuai dengan yang sudah kita pisahkan. Disanalah letak keberkahan, karena Rasulullah sudah mencontohkan.
Semoga Allah berikan saya kemudahan untuk melayani karyawan dengan adil dan bijaksana. Semoga keuangan saya kembali pulih dan bisa memberikan manfaat yang banyak untuk orang lain.
Think positive
#pemimpin #catatankecik #adil #team #karyawan #sunahnabi #sunah

Komentar
Posting Komentar